MAN JADDA WA JADA

Saat masih SMP saya bertekad agar kelak bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat. Meskipun saya berasal dari keluarga yang sederhana (namun bahagia) tetapi saya memiliki semangat dan tekad kuat untuk memutus garis “kemiskinan” keluarga saya, dan menggantinya menjadi garis Mapan-Dermawan. Suatu hari, sepulang dari sekolah setelah pengumuman kelulusan UAN SMP, saya dan 2 sahabat baik saya saling mengutarakan cita-cita kami dan jalan yang akan kami pilih untuk menggapainya. Salahseorang teman saya bercita-cita menjadi seorang arsitek dan kelak setelah lulus SMA, dia ingin melanjutkan studinya di ITB. Sahabat yang satunya lagi bercita-cita menjadi seorang guru seni dan memilih UPI sebagai tempatnya melanjutkan studi. Dan saya sendiri bercita-cita menjadi seorang pengusaha kayu(hasil hutan) yang sukses dan bermanfaat, dengan mantap saya mengatakan bahwa saya akan melanjutkan studi di IPB.

Hari demi hari berlalu, saya dan kedua sahabat saya sekolah di SMA yang sama, yaitu SMAN Tanjungsari. Saat kelas XII SMA, saya dan kedua sahabat mereview komitmen dan cita-cita kami 3 tahun lalu. Sebenarnya saya mendapatkan kendala dalam hal biaya. Karena melihat keadaan ekonomi keluarga saya, rasanya terlalu mewah dan mustahil untuk saya kuliah. Dari situlah saya sempat down dan merasa hidup ini tak adil.

Namun saya berpikir bahwa berlarut larut dalam keputusasaan hanya membuang waktu dan energi. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa saya bisa. Kemudian saya berwirausaha dan memberi les untuk SD dan SMP serta aktif mengamalkan ilmu agama saya di masjid, dengan harapan hasilnya bisa untuk sekedar membayar pendaftaran kuliah.

Ketika ada seleksi USMI, saya putuskan untuk ikut mendaftarkan diri, tak peduli apapun konsekuensi keuangannya. Saya percaya bahwa Allah maha kaya. Tugas saya hanya berusaha dan berdoa. Alhamdulillah Allah melihat usaha dan kerja keras saya serta do’a do’a yang mengiringi. Saya masuk IPB di departemen Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan tanpa harus membayar sepeser uangpun selama 4 tahun masa pendidikan, karena saya mendapatkan beasiswa BIDIK MISI.

Itulah janji Allah kepada hambaNya yang bersungguh sungguh dan percaya kepada keagunganNya. Man Jadda Wa Jada (barangsiapa bersungguh sungguh, maka dapatlah ia).

SOBANDI WIGUNA

(laskar 19)

CERITA INSPIRASI TEMAN

Teman saya ini berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun niat dan keinginannya untuk melanjutkan studi di ITB sangat kuat.

Waktu itu di kelas saya ada 5 orang yang daftar ke ITB melalui jalur BIUS (Beasiswa ITB Untuk semua). Ia termasuk salahseorang diantara mereka.

Tahap pertama seleksi ada 3 orang yang lulus, dan ia termasuk ke dalamnya. Ia sangat bersyukur, karena cita citanya hanya selangkah lagi di hadapannya.

Namun pada tes selanjutnya ia gagal. Ia agak kecewa dan tentu bersedih. Namun kesedihannya itu tak berlarut larut, dan kegagalan itu tak mencegah semangatnya untuk semakin menggelora. Sejak saat itu, ia terlihat berbeda dari biasanya. Porsi belajarnya ia tingkatkan, sholat dhuha dan amalan amalan sunnah ia tingkatkan pula. Ketika ada tawaran dari universitas lain ia tak menggubrisnya, karena tujuannya hanyalah ITB.

Akhirnya ia ikut SNMPTN dan hanya memilih ITB pada pilihan perguruan tinggi. Alhamdulillah, ia masuk ITB jurusan teknik pertambangan (FTTM), dan mendapat beasiswa BIDIK MISI pula.

Itulah janji Allah kepada hambaNya yang bersungguh sungguh dan percaya kepada keagunganNya. Man Jadda Wa Jada (barangsiapa bersungguh sungguh, maka dapatlah ia).

SOBANDI WIGUNA

(laskar 19)

Search
Archives